Pada jaman dahulu kala ada seorang Raja bernama wora – wari, dia
mempunyai wilayah kesukaan yang sangat luas namun masih di bawah pemerintahan
kerajaan malowopati dengan Raja angling Darmo. Raja Wora – Wari walupun Raja
Taklukan Angling Darmo Beliau termasuk Raja yang patuh dan sendiko dawuh terhadap
Raja Angling Darmo. Raja Wora – wari selain disenangi Nayoko Projo di
Malowopati ia juga di cintai kawulanya. Sebab ia bisa menciptakan daerahnya
menjadi gemah ripah loh jinawi.
Namun dalam
perjalanan waktu datanglah seorang Raja yang bernama Rojo Dengkol seorang Raja
yang Adigang Adigung, ia selalu bikin onar, termasuk ia ingin merebut istri Raja
Wora – wari. Karena Raja Wora – wari mempertahankan istri dan harga diri
sebagai seorang Raja, terjadilah peperangan antara Raja Wora – Wari dan Raja Dengkol.
Raja Wora –wari terbunuh dalam peperangan ini, akhirnya istri Raja Wora – wari
menjadi milik Raja Dengkol walau sebetulnya istri Raja Wora – wari tidak
mencintai Raja Dengkol sebab selain jahat ia juga berwajah jelek dan kakinya
cacat.
Dalam keadaan terpaksa istri Raja Wora – wari menuruti yang dikehendaki
rojo Dengkol dengan satu permintaan yaitu Rojo Dengkol harus mau menerima anak
yang dikandungnya seperti anaknya sendiri, Rojo Dengkol menurutinya. Hari
berganti hari, minggu pun berlalu, bulan menjadi tahun dan tahunpun telah berganti.
Anak istri Raja Wora – wari telah
menginjak usia remaja ia di berinama Bondan Kejawan dan dia telah mengetahui bahwa
ayah kandungnya telah meninggal dunia karena dibunuh oleh Rojo Dengkol ayah tiriya.
Setelah tahu demikian Bondan Kejawan ingin membalas atas meninggalnya
ayah kandungnya. Atas saran dan petunjuk bekas abdi dalem Raja Wora – wari
Beliau adalah Raden Bagus Sujono, Bagus Alus dan Demang Kajangan maka
disusunlah rencan untuk membunuh Raja Dengkol.
Setelah diadakan musyawarah Akhirnya mendapat kata mufakat, hingga
akhirnya Raja Dengkol dapat di taklukkan. yang menanklukkan adalah Ki Gede
Mangsong berkat bantuan dari Raden Sujono.
Seiring waktu orang – orang yang bisa menaklukkan Rojo
Dengkol dianggap berjasa oleh pemerintahan malowopati, orang itu diberi
kamokten di keRajaan malowo pati. Dari kesekian orang itu ada satu yang tidak
mau ia adalah Raden Bagus Sujono karena ia lebih memilih hidup dengan rakyat
kecil sampai akhir hayatnya. Setalah meninggal daerah sekitar makam Raden Bagus
Sujono di berinama “JONO” sampai dengan sekarang orang menyebut “DESA JONO”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar